Kawan
, malam ini saya ingin berbagi kisah yang ada di keluarga saya. Maaf sedikit
menyimpang dari tema awal kenapa saya menulis blog ini. Ini dikarenakan saya rinduuu pada kelurga saya di
Sukabumi(maklum anak perantauan). Setelah mang Donald yang care, kali ini saya akan menceritakan
kisah hebat spupuku, Ayat.
Keluarga dari
pihak ayahku tinggal di sebuah desa indah di Kabupaten Sukabumi. Ayahku adalah anak
ketiga dari 4 bersaudara. Kakak ayahku yang pertama kita sebut saja namanya JY
tinggal dan bekerja di Jakarta setelah menikah, kakak ayahku yang kedua dan
satu – satunya anak perempuan yang bernama Hajah memilih tinggal di desa yang
sama hanya saja berbeda RT dengan rumah kakek – nenekku, adik ayahku JN dan
keluarga kecilnya tinggal bersama nenekku sedangkan ayahku dan kami tinggal di
Kota Sukabumi. Acara yang dapat menyatukan kami yang berjauhan adalah lebaran
dan liburan sekolah. Saat itulah semua keluarga akan menginap di rumah nenekku.
Menyenangkan
sekali berada di rumah nenekku saat itu, rumah yang asri dan suasana pedesaan
yang kental adalah yang aku dan keluarga rindukan setiap liburan. Apalagi lingkungan
masyarakat nenekku yang masih sederhana dan ramah yang terkadang menyambut kami
keluarga yang merantau datang. Pintu nenekku akan seharian terbuka dengan tamu
yang silih bergantian masuk untuk sekedar mengobrol. Puncaknya adalah saat malam hari TV di nenekku akan di penuhi
oleh banyak orang (saat itu TV masih sangat jarang) yang menumpang menonton.
Liburan liburan yang menyenangkan itu berlangsung sampai aku menginjak SMP kelas
3.
Roda kehidupan kemudian berputar, di atas akan
jatuh ke bawah dan di bawah akan naik ke atas. Kami pun mengalami sedikit ujian,
Uwa Hajah terkena penyakit paru – paru, beliau adalah ibunda dari tokoh utama
kita. Liburan indah ku tidak lagi sama, kami diliputi rasa sedih dan khawatir.
Sedikit banyak
sakit Uwa Hajah juga disebabkan guncangan hebat karena sebelumnya beliau harus kehilangan Rus,
anak pertamanya, kakak Ayat karena kecelakaan motor. Keluarga kami sedih sekali
atas kehilangan Rus tapi percaya kawan.. lebih menyedihkan adalah kondisi
Ibundanya yang dapat dilihat jelas kami
semua. Beliau sangat sedih dan melihat kesedihanya terasa sangat memilukan.
Kepergian Rus terjadi saat baru saja menikah dan istrinya hamil muda. Berlipat
saja sedih itu bagi Uwa Hajah karena Rus adalah tumpuan harapannya. Uwa Hajah
banting tulang sebgai single parents untuk
kesuksesan Rus, yaaa kawan.. Uwa Hajahku yang cantik ditinggal mati oleh suaminya
saat anak bungsunya masih balita. Elegi keluarga Ayat berlanjut, bertahun tahun
Uwa Hajah sakit dan harus bolak balik RS. Ayat yang duduk di bangku SMA
kemudian menjadi kepala keluarga, apalagi adiknya Ayat, Ayu adalah siswa SMP.
Ayat kemudian mulai mencari uang. Pekerjaan Uwa Hajah sebelumnya dipegang oleh
anak angkat beliau.
Suasana kembali
menjadi pilu saat Uwa JY juga meninggal. Keluarga di Jakarta menangis. Tenang kawan, keluarga Jakarta akan dibahas pada
kesempatan lain. Marilah kita berfokus pada Ayat.
Ayat
kami adalah orang yang cerdas dan insya Allah sholeh. Ia tahu bahwa
menggantungkan diri pada keluarga yang lain adala kebiasaan buruk. Apalagi uwa
JY yang paling kaya diantara semuanya telah tiada. Saat menginjak SMA Ayat
mencoba membuka usaha kecil – kecilan computer. Beberapa tetangga yang mmpunyai
computer rusak akan dibetulkan oleh Ayat, selain itu Ayat juga menerima
penitipan pembelian computer, masyarakat desa yang ingin membeli computer tidak
usah usah jauh jauh pergi ke kota.
Usahanya
dibantu oleh kesukaan Ayat untuk berkebun dan berternak, sambil menunggu
orderan computer, Ayat juga memiliki usaha berbagai macam tanaman dan berternak
kelinci. Alhamdulillah semakin menambah penghasilan mereka. Hidup kembali
berlanjut.
Terkadang ujian
itu akan datang bertubi - tubi, bukan karena Allah membenci kita tetapi Dia
mengetahui bahwa kita dapat melewati cobaan itu dan ingin mmberi cobaan yang
lebih besar lagi untuk membuktikan bahwa kita juga akan dapat menaklukannya. Berita
buruk itupun akhirnya datang, Uwa Hajah yang dirawat di Rs. R.Syamsudin
menghembuskan nafas terakhirnya, dunia terasa runtuh bagi Ayat dan juga kami.
Ayat
baru saja menginjak bangku kuliah pertamanya, dan Ayu yang kini adalah
saudaranya yang tersisa masih dibangku SMA kemudian mulai meniti hidup yang
baru. Karena tak tega mmbiarkan Ayat dan Ayu sendirian, nenekku memutuskan
pindah ke rumah Ayat. Nenekku tidak bisa membantu secara materi karena juga
bukan orang yang berkecukupan, keluarga yang lain pun seperti itu, kami hanya
bisa membantu sebisanya. Ayat mengerti akan keadaan tersebut dan tak bisa
menggantungkan harapan pada orang lain, sekarang dia adalah kepala keluarga
bagi dirinya dan Ayu. Usaha computer, tanaman dan ternak tidak akan cukup
membiayai kuliahnya dan sekolah adiknya. Sepupuku yang tangguh itu kemudian
mencoba pekerjaan lain, pekerjaan yang mempunyai gaji tetap. Sopir pribadi.
Seakan
belum cukup sibuk dengan mengantarkan tetangganya, Ayat kemudian menjadi staf
pengajar SMP di yayasan tempat kuliahnya. Hari – harinya pun semakin sibuk.
Ayat kini benar – benar telah dewasa.
Setelah ada
ujian akan ada pertolongan oleh Allah, begitulah yang terjadi, hidup Ayat yang sempat
suram kembali bersinar cerah, banyak sekali bantuan yang mengalir untuk Ayat
dari mana – mana. Salah satunya adalah pemberian bantuan usaha depot gallon dirumahnya.
Usaha itu sangat membantu untuk mencukupi kebutuhan sehari – harinya. Pekerjaan
menungguinya diserahkan kepada Ayu.
Nenekku
dan keluarga yang lain menghembuskan nafas lega, Ayat dan Ayu akhirnya dapat bertahan
melewati ujianny dan survive.
Cobaan
kami datang lagi, nenekku kemudian meninggalkan kami semua. Ayat dan Ayu
ditingglkan lagi. Tapi pernahkah kau bayangkan bagaimana wajah Ayat atas semua
yang dialaminya, apakah kau membayangkan wajah sedih, merana, bimbang atau
tersiksa? Maka bayanganmu salah kawan karena sepupuku ini tidak menyetel
wajahnya seperti itu. Dia adalah orang yang selalu tenang. Menangis pun jarang
kecuali saat menjatuhkan diri di sujudnya. Ayat tak pernah berpikir bhawa hidup
begitu kejam karena membuatnya mengalami berbagai macam kehilangan dan
kesepian. Ayat tak pernah berpikir unutk menyesali kenapa dia harus membanting
tulang sementara remaja lain bersenag senang? Ayat kami tidak sperti itu. Dia
menolak bersedih atas nasib dan belajar mnjalaninya.